REVISI BLIAN NGANAK BY NAYLA
MENGENAL LEBIH DALAM TENTANG BLIAN NGANAK
Saya adalah seorang anak yang lahir dan besar di Desa Mambalan. Desa ini bukan tempat yang asing bagi saya. Di sinilah saya tumbuh, melewati masa kecil, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Namun, semakin saya mencoba mengenal Mambalan, saya justru menyadari bahwa ada banyak hal tentang desa ini yang belum saya ketahui. Ada cerita yang belum pernah saya dengar, ada tradisi yang belum pernah saya kenal, dan ada pengetahuan yang selama ini hidup di tengah masyarakat tanpa pernah benar-benar sampai kepada saya. Salah satunya adalah Blian Nganak.
Istilah itu pertama kali saya dengar ketika mengikuti kegiatan belajar bersama komunitas Sagattrah. Saat itu, saya belum mengetahui apa arti Blian Nganak, apa saja yang dilakukan, ataupun siapa yang menjalankannya di Desa Mambalan. Saya hanya mendengar istilah tersebut muncul di tengah diskusi ketika kami sedang mencoba mengenali berbagai hal yang ada di desa.
Beberapa minggu sebelumnya, setiap hari Sabtu saya mulai mengikuti kegiatan Menyigi Ninting. Awalnya, saya cukup acuh tak acuh karena belum mengetahui kegiatan seperti apa yang dilakukan oleh komunitas ini. Namun, ada satu keinginan besar yang kemudian mendorong saya untuk mengikuti kegiatan tersebut, yaitu mengenal Mambalan lebih dalam. Keinginan ini muncul karena saya merasa masih kurang mengetahui berbagai hal mengenai Desa Mambalan. Hal tersebut mungkin disebabkan karena sebagian besar masa sekolah saya habiskan di Kota Mataram. Saya memang lahir di sini, tetapi ternyata lahir dan tinggal di sebuah tempat tidak selalu berarti kita sudah mengenal seluruh ceritanya.
Dalam kegiatan Menyigi Ninting, kami pada awalnya membahas berbagai persoalan yang terjadi di desa. Lalu pada pertemuan selanjutnya, kami mulai melakukan pemetaan dan membuat peta Desa Mambalan. Kami memetakan situs bersejarah, para tokoh penting, serta berbagai hal yang menurut kami perlu diketahui tentang Mambalan.
Di tengah proses diskusi dan pemetaan tersebut, muncul sebuah istilah yang cukup asing bagi saya, yaitu Blian Nganak. Karena baru pertama kali mendengar istilah tersebut, saya kemudian bertanya kepada teman saya, “Apa aran Blian Nganak?” (Apa itu Blian Nganak?) Lalu pertanyaan lain muncul “Sai Blian Nganak lek Mambal ni?” (Siapa Blian Nganak di Mambalan ini?)
Dari percakapan sederhana itu, saya mengetahui bahwa terdapat seorang Blian Nganak yang dikenal dengan nama Ibu Sehan. Namun, informasi yang saya dan teman-teman miliki mengenai beliau masih sangat terbatas. Kami hanya mengetahui bahwa beliau adalah seorang Blian Nganak. Saya belum mengetahui bagaimana beliau mendapatkan pengetahuan tersebut, apa saja yang beliau lakukan, dan mengapa sampai sekarang masih ada masyarakat yang datang meminta bantuan kepada beliau.
Rasa penasaran saya kemudian semakin besar. Jika saya ingin mengenal Desa Mambalan lebih dalam, mungkin saya juga perlu mengenal orang-orang yang menyimpan pengetahuan dan cerita tentang desa tersebut.
Akhirnya, pada suatu malam selepas Isya, saya dan Umi, salah seorang teman dari kegiatan Menyigi Ninting datang ke rumah Ibu Sehan. Kami mengetuk pintu rumah beliau dengan membawa rasa penasaran terhadap sesuatu yang sebelumnya bahkan belum pernah saya kenal.
Tidak lama kemudian, Ibu Sehan membuka pintu.
Kalimat pertama yang keluar dari beliau adalah, “Sai yak meriri?” (Siapa yang mau meriri?)
Saya kemudian menjawab, “Dek arak, ni yak ite tokol-tokol tanya side tentang Blian Nganak.” (Tidak ada, ini kita mau duduk-duduk bertanya tentang Blian Nganak.)
Sambil tersenyum, beliau mempersilakan kami masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam rumah beliau, mata saya langsung tertuju pada sebuah benda yang tampak seperti cobek dan beberapa ramuan yang berada di pojok ruangan. Sepertinya Ibu Sehan menyadari bahwa saya memperhatikan benda tersebut.
Beliau kemudian berkata, “Baru tutuk tau dateng meriri.” (Tadi baru saja ada yang datang meriri.)
Saat itulah saya mengetahui bahwa benda tersebut merupakan salah satu peralatan yang digunakan ketika beliau melakukan kegiatan meriri.
Meriri merupakan salah satu praktik yang dilakukan oleh Blian Nganak. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari hasil wawancara, salah satu kegiatan dalam praktik tersebut adalah membantu memperbaiki posisi bayi yang berada di dalam kandungan ketika posisi kepala bayi belum berada pada posisi yang sesuai untuk lahir, yaitu kepala menghadap ke bawah. Dalam istilah medis, kondisi ketika posisi bayi tidak menempatkan kepala di bagian bawah disebut presentasi sungsang.
Dalam proses meriri, saya dan Umi juga sempat bertanya apakah ada bacaan khusus ketika proses tersebut berlangsung. Beliau menjawab bahwa ada bacaan khusus sebagai salah satu syarat. Namun, beliau tetap mengatakan bahwa yang menyembuhkan dan memudahkan tetaplah Allah Swt.
Praktik lainnya yang sering dilakukan oleh Ibu Sehan adalah membantu dalam prosesi ngeretes. Ngeretes merupakan kegiatan tujuh bulanan bagi ibu yang sedang hamil. Dalam prosesi tersebut, ibu hamil diminta untuk mandi di bawah air pancuran dengan menunggangi kayu blida. Kegiatan tersebut dilakukan pada malam hari ketika para lelaki di rumah sedang berzikir. Ibu Sehan bertugas membantu dan memberikan arahan dalam pelaksanaan ritual tersebut.
Selain itu, Ibu Sehan juga sering diminta untuk melakukan kegiatan peda’ api. Peda’ api merupakan prosesi syukuran yang dilakukan ketika tali pusat bayi sudah putus. Dalam kegiatan tersebut, bayi juga diberikan nama. Pada prosesi tersebut, Ibu Sehan biasanya dipanggil untuk memberikan doa dan memijat ibu serta bayi. Beliau juga mengikatkan gelang pada bagian perut dan tangan yang dipercayai oleh masyarakat dapat membantu melindungi ibu dan bayi dari penyakit, terutama penyakit diare.
Semakin lama mendengar cerita beliau, saya mulai memahami bahwa Blian Nganak bukan sekadar sebuah istilah biasa yang muncul tiba-tiba. Di dalamnya terdapat berbagai praktik, pengetahuan, kepercayaan, dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat Mambalan.
Selama mengobrol, Ibu Sehan juga bercerita bahwa sekarang beliau sudah tidak diperbolehkan membantu ibu hamil yang melahirkan di rumah dan membimbing proses persalinannya. Pihak puskesmas mengharuskan setiap ibu hamil untuk melahirkan di puskesmas atau melalui bidan setempat.
Saya kemudian bertanya apakah semenjak adanya kebijakan tersebut masyarakat yang datang untuk praktik Blian Nganak menjadi berkurang. Beliau menjawab bahwa masyarakat tetap datang untuk “berobat”. Bahkan, hampir setiap hari masih ada yang datang ke rumah beliau.
Mendengar jawaban tersebut, saya menyadari bahwa perubahan zaman dan keberadaan layanan kesehatan formal tidak serta-merta membuat praktik Blian Nganak hilang dari kehidupan masyarakat. Sebagian masyarakat masih mempertahankan kepercayaan terhadap praktik tersebut dan tetap datang kepada Ibu Sehan.
Lalu saya bertanya, jika ada masyarakat yang datang meminta bantuan, berapa tarif yang harus dibayar kepada beliau Lalu beliau menjawab, “Pira-pira te beng, seikhlasnya.” (Berapa saja yang diberikan, seikhlasnya.)
Beliau mengatakan bahwa niatnya adalah membantu teman-teman yang sedang kesakitan. Di mana pun dan siapa pun yang membutuhkan bantuan, beliau siap membantu tanpa rasa enggan.
Kalimat sederhana itu justru menjadi salah satu hal yang paling saya ingat dari pertemuan malam itu. Bagi saya, “seikhlasnya” bukan sekadar jawaban mengenai tarif. Dari kalimat tersebut, saya melihat bagaimana sebuah pengetahuan dapat dijalankan bersama dengan rasa kepedulian terhadap sesama. Ibu Sehan tidak hanya menyimpan pengetahuan yang diwariskan kepadanya, tetapi juga menggunakannya untuk membantu orang-orang di sekitarnya.
Pertanyaan terakhir saya malam itu adalah bagaimana dan mengapa beliau bisa menjadi seorang Blian Nganak. Beliau mengatakan bahwa pengetahuan tersebut merupakan ilmu yang diturunkan secara turun-temurun. Ilmu tersebut tidak diajarkan secara formal, tetapi langsung diturunkan oleh ibu beliau yang bernama Ibu Sarifah. Ibu Sarifah merupakan salah satu Blian Nganak yang dikenal di Mambalan sebelum akhirnya meninggal dunia.
Beliau juga mengatakan bahwa mungkin pengetahuan tersebut nantinya akan diturunkan kepada salah satu anak beliau. Namun, beliau sendiri tidak mengetahui anak yang mana yang nantinya akan meneruskannya.
Lewat praktik Blian Nganak, Ibu Sehan juga mengatakan bahwa beliau dan keluarganya dapat mencukupi kehidupan melalui jasa yang beliau berikan.
Ibu Sehan juga menyatakan bahwa praktik Blian Nganak sejatinya bukan hanya ada di Mambalan. Praktik ini juga dikenal di berbagai tempat lain di Lombok. Dalam kehidupan masyarakat Sasak, proses seperti meriri, ngeretes, dan peda’ api merupakan bagian dari tradisi yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan dianggap memiliki nilai kebaikan.
Malam itu, saya dan Umi akhirnya berpamitan pulang.
Saya datang ke rumah Ibu Sehan dengan membawa rasa penasaran terhadap satu istilah yang sebelumnya begitu asing bagi saya. Namun, saya pulang dengan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar catatan hasil wawancara. Dari satu pertanyaan tentang Blian Nganak, saya akhirnya bertemu dengan Ibu Sehan, mendengar cerita tentang pengetahuan yang diwariskan ibunya, dan melihat bagaimana sebuah tradisi masih hidup di tengah masyarakat Mambalan.
Bagi saya, Blian Nganak bukan hanya sebuah layanan jasa. Dari cerita Ibu Sehan, saya melihat adanya solidaritas dan rasa kekeluargaan yang masih hidup di tengah masyarakat. Ada seseorang yang bersedia membantu ketika orang lain membutuhkan, dengan apa yang ia ketahui dan miliki.
Tentu, praktik yang berkaitan dengan kesehatan perlu dipahami dan dikaji dengan bijak. Layanan kesehatan modern tetap memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi. Namun, di sisi lain, tradisi dan pengetahuan lokal juga menyimpan bagian dari identitas masyarakat yang penting untuk dikenali dan didokumentasikan. Sebab, ketika generasi muda tidak lagi mengenal tradisinya sendiri, yang perlahan hilang bukan hanya sebuah praktik. Bisa jadi, yang ikut hilang adalah cerita tentang orang-orang yang pernah menjaganya.
Namun, generasi muda saat ini, seperti saya, masih kurang familiar dengan tradisi-tradisi yang ada di Gumi Sasak ini. Bahkan, saya yang lahir dan tumbuh di Mambalan baru mengenal istilah Blian Nganak ketika mengikuti kegiatan Menyigi Ninting. Hal tersebut membuat saya bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak lagi cerita dari Mambalan yang belum saya kenal?
Selama ini, saya mengira bahwa karena saya lahir di Mambalan, berarti saya sudah mengenal desa ini. Ternyata tidak. Mengenal sebuah tempat bukan hanya tentang mengetahui jalan-jalannya, mengenal tetangganya, atau pernah tinggal di dalamnya. Mengenal sebuah tempat juga berarti mengetahui cerita orang-orangnya, memahami tradisinya, dan menghargai pengetahuan yang tumbuh bersama masyarakatnya.